Mitos dan sejarah berdirinya jembatan Ampera Palembang

Mitos dan sejarah berdirinya jembatan Ampera Palembang

Jembatan Ampera -Jembatan Ampera adalah sebuah jembatan di kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Jembatan Ampera memiliki panjang 1117 meter dengan lebar 22 meter. Pada bagian jembatan ini juga terdapat menara dengan tinggi 63m.

Ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang ”Seberang Ulu dan Seberang Ilir” dengan jembatan,  sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang tahun 1906, namun selalu gagal di realisasikan. Pada zaman kemerdekaan, ide pembangunan jembatan kembali mencuat. Pada tahun 1957, dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, H.A. Bastari. Pendampingnya, Walikota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno agar mendukung rencana itu. Usaha yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang, yang didukung penuh oleh Kodam IV/Sriwijaya ini kemudian membuahkan hasil. Bung Karno kemudian menyetujui usulan pembangunan itu. Karena jembatan ini rencananya dibangun dengan masing-masing kakinya di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir, yang berarti posisinya di pusat kota, Bung Karno kemudian mengajukan syarat. Yaitu, penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan itu.

Mitos dan sejarah berdirinya jembatan Ampera Palembang

Mitos dan sejarah berdirinya jembatan Ampera Palembang

Pembangunan jembatan ini dimulai pada tanggal 16 September 1960, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.

Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.

Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Sekitar tahun 2002, ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama Jembatan Ampera ini. Tapi usulan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian masyarakat.

Pada awalnya, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit.

teks sejarah jembatan ampera

teks sejarah jembatan ampera

Demikian artikel tentang Jembatan Ampera, semoga bermanfaat bagi pengetahuan Anda. Penelusuran yang terkait dengan Mitos dan sejarah berdirinya jembatan Ampera Palembang

sejarah jembatan ampera, jembatan ampera tempo dulu, panjang jembatan ampera, gambar jembatan ampera, jembatan ampera runtuh, wisata jembatan palembang

Artikel di cari :

teks tentang suramadu dlm bhs inggris, cengkorongan palapuran, cerita tentang jembatan ampera dalam bahasa inggris, perangan teks deskriptif, tanggap woro, contoh teks editorial dengan bertema perang terhadap sampah, recount text terpanjang

Mitos dan sejarah berdirinya jembatan Ampera Palembang | obyek wisata | 4.5